Larangan Mobil Silinder Kecil Jadi Taksi Online Buat 755 Pengendara Resah


Peraturan terbaru dari Kementrian Perhubungan meresahkan sebanyak 755 pengendara taksi online. Pasalnya, dalam peraturan tersebut disebutkan bahawa mobil berkapasitas silinder di bawah 1.300 cc dilarang untuk dijadikan sebagai taksi online.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 tahun 2016 pasal 18 ayat (2) diatur pelayanan angkutan sewa wajib menggunakan kendaraan penumpang umum minimal 1.300 cc.

Mobil yang dapat digunakan sebagai taksi online harus memiliki kapasitas mesin di atas 1.300 cc.
Mobil jenis murah dan ramah lingkungan atau low cost green car dilarang untuk dijadikan taksi online.

Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, ada 7.256 taksi aplikasi yang terdata.

Dari jumlah itu, 5.927 kendaraan direkomendasikan untuk uji kir.
Dari sekian ribu itu, ada 755 pengendara taksi online dengan kapasitas mesin di atas 1.300 cc.

Mereka resah karena penghasilan akan terkikis bila nantinya dilarang untuk menarik penumpang.
Ketua Asosiasi Online Community dan Barisan Uber Serentak (Oncom-Buser), Ahmad Firmansyah mengatakan pemerintah seakan melindungi pemilik angkutan umum berbasis aplikasi yang tidak taat.

"Kami sudah mengikuti segala aturan, mulai dari badan hukum sampai uji KIR. Tapi tiba-tiba pemerintah melarang mobil Low Cost and Green Car (LCGC) dengan kapasitas dibawah 1.300 cc beroperasi," ujar Ahmad di Jakarta Pusat, Selasa (4/10/2016).

Ahmad menjelaskan, Oncom-Buser merupakan kumpulan driver berbasis aplikasi online yang anggotanya berjumlah lebih dari 5.000 orang.

755 merupakan pemilik kendaraan LCGC yang telah melaksanakan uji kir yang di fasilitasi oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi (dishbutrans) DKI Jakarta.

Ahmad berharap, Kementerian Perhubungan merevisi Permenhub Nomor 32 Tahun 2016 sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan yang ada. 

Satu diantaranya memperbolehkan kendaraan di bawah 1300 cc bisa beroperasi dan mengikuti uji kir.
Sebab, sebagian dari mereka sudah melakukan uji kir dan dinyatakan lolos pada periode sosialisasi awal dari bulan Maret – September 2016.

"Karena kami yang sudah di KIR merupakan angkutan umum sewa beraplikasi Online yang sudah mempunyai IPA (Ijin Penyelenggaraan Angkutan) Sewa," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dishubtrans DKI Jakarta Andri Yansyah menegaskan, untuk kendaraan LCGC yang memiliki kapasitas silinder dibawah 1.300 cc tidak diperbolehkan beroperasi.

Artinya, mobil jenis LCGC seperti Datsun Go, Datsun Panca, Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Daihatsu Sigra, Toyota Cayla, Honda Brio, Suzuki Karimun, tidak boleh dipergunakan sebagai mobil angkutan sewa berbasis aplikasi di wilayah DKI Jakarta.

"Tuntutan itu hanya sebagai alasan mereka untuk tidak mau ikutin peraturan," katanya.
Kata dia, tuntutanya hampir sama seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu dalam unjuk rasa di kawasan Istana.

"Kalau tidak mau ikuti aturan, silahkan saja operasi, kami akan segera menertibkannya," ucapnya.
Andri menjelaskan, untuk menertibkan aplikasi online yang tidak berizin Oktober ini, pihaknya sedang menunggu perintah kementrian perhubungan sebagai pihak yang mengeluarkan Kartu Izin Usaha (KIU) dan Kartu Pengawasan (KP).

Dia berharap agar kementrian segera mengeluarkan surat perintah penindakan agar tidak terjadi gesekan antara pelaku angkutan konvensional dan aplikasi.