Pelabuhan Muara Baru Tampak Lengang karena Pelaku Usaha Mogok Beroperasi



Pelabuhan Muara Baru di Jakarta Utara tampak lengang, Rabu (12/10/2016). Tak nampak ada aktivitas pekerja di salah satu pelabuhan terbesar di Ibu Kota itu. 

Suasana lengang itu merupakan imbas dari mogok kerja yang dilakukan sejumlah pelaku usaha dan nelayan di Muara Baru sejak Senin (10/10/2016). 

Dari pantauan Kompas.com pada Rabu, rata-rata pabrik di Muara Baru masih tertutup. Ada satu hingga dua pabrik yang tampak membuka gerbang pagarnya, tapi tidak diketahui apakah beroperasi seperti biasa atau ikut dalam aksi mogok tersebut.

Spanduk bertuliskan "Kami Tutup Operasional" juga di pasang tepat di depan pabrik. Selain di pabrik, suasana lengang terlihat di kawasan bongkar muat kapal penangkap ikan. 

Puluhan kapal penangkap ikan menyandarkan kapalnya di dermaga. Spanduk yang sama juga dipasang di badan kapal. Di kawasan itu, sejumlah anak buah kapal (ABK) tampak bersantai. Ada yang berkumpul sambil bercerita dengan sesama ABK, ada juga yang tidur-tiduran sambil memainkan ponselnya. 

Padahal seharusnya kawasan itu menjadi kawasan tersibuk di Pelabuhan Muara Baru. 

(Baca: Perum Perindo Ingin Ubah Aturan Sewa Lahan di Pelabuhan Muara Baru)

Edi, salah satu ABK di Muara Baru mengatakan, penghentian operasional kapal telah terjadi sejak dua hari lalu. Pemilik kapal meminta seluruh ABK tidak melaut. Edi mengaku tak mendapat alasan yang jelas mengapa seluruh operasional kapal dihentikan. 

"Katanya soal pajak, tapi nggak ngerti juga soal apa. Katanya semua ABK diliburkan, gitu aja," ujar Edi saat ditemui Kompas.com, Rabu siang.

Edi mengatakan, biasanya sekali melaut, kapal bisa membawa sebanyak 100 ton berbagai jenis ikan. Waktu melaut minimal berlangsung selama satu bulan.

Terkait upah, Edi mengatakan pemilik kapal akan membayar ABK sebesar Rp 2,5 juta per bulan. 

"Meski nggak kerja kami tetap dibayar. Perjanjiannya seperti itu," ujar Edi. 

Edi menambahkan, dari informasi yang didapat, mogok kerja akan berlangsung selama sepekan. Namun, dirinya tidak tahu apakah mogok kerja akan diperpanjang. 

Di lokasi yang sama, Imam mengaku aksi mogok kerja di Pelabuhan Muara Baru memengaruhi penghasilannya sebagai teknisi kapal. Pada hari-hari normal selalu ada saja kapal yang perlu perbaikan ketika baru bersandar usai melaut.

Adapun Imam menerima upah Rp 100.000 untuk perbaikan satu unit kapal.

"Tiga hari kosong, nggak ada yang diperbaiki. Main game aja ini mas, datang ke mari duduk-duduk," ujar Imam. 

Lalu Amiruloh, salah satu pegawai bongkar muat ikan di Muara Baru mengatakan, sejak para nelayan mogok kerja, tak ada pasokan ikan yang masuk. Biasanya, dalam sehari sebanyak 400 hingga 1.000 ekor ikan jenis tuna dipasok dari kapal menuju gudang pemasokan. Namun, hari ini, tak ada satupun ikan yang masuk ke tempat pasokan. 

"Kosong mas, tiga hari mogok," ujar Amiruloh. 

(Baca: Ini Tuntutan Pengusaha di Pelabuhan Muara Baru kepada Perum Perindo)

Sejumlah pelaku usaha di Pelabuhan Muara Baru mogok kerja. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Perum Perikanan Indonesia (Perindo) yang menaikkan biaya sewa lahan di Muara Baru. Rencananya, mogok kerja akan dilakukan selama satu pekan hingga satu bulan.