Fenomena Bule di Bali, Kini Banyak yang Datang Hanya untuk Transit Lalu Menuju ke Lokasi Ini!



Wayan Sudarma Minggu (15/1/2017) menunjukan spot-spot menarik di Ubud, kepada wisatawan mancanegara (Wisman) yang  ia bawa.

Dari penuturan wisman yang ia bawa inilah, banyak di antara mereka mengakui jika Bali kini hanya dijadikan transit saja sebelum akhirnya ke daerah tujuan Lombok dan Gili Trawangan.

“Contohnya saja tamu saya, dia mengatakan tinggal di Bali sebentar lalu menuju Gili Trawangan. Di sana lancar katanya tidak ada macet. Saya dengar di sana katanya tidak ada kendaraan boleh ke Gili cuma sepeda dan cidomo saja,” jelas Sudarma asal Ubud yang menjadi guide untuk wisman Korea, ditemui di daerah Ubud, Gianyar, Bali, Minggu (15/1/2017).

Ia pun mengakui daerah seperti Banyuwangi dan Gili Trawangan memiliki pantai yang bersih dan terawat.
Oleh sebab itu sebagian wisatawan memilih pergi ke sana.

“Tamu saya bahkan mengakatan excellent itu kan menandakan bagusnya di sana. Kalau di sini kan pantainya penuh sampah botol. Tetapi memang yang masih digemari turis ke sini karena budaya Bali-nya,” ujar bapak 3 anak ini.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, AA Gede Yuniarta mengatakan lenght of stay (lama tinggal) wisman di Bali turun dari awalnya 3-4 hari tahun 2015 menjadi 2-3 hari di 2016.

Ini dikarenakan kemacetan yang ada di Bali. Ia tidak menampik Bali sekarang menjadi transit wisatawan yang memilih ke Lombok dan Gili Trawangan.

“Iya, memang kita harus akui Bali dijadikan mereka pintu masuk ke daerah mana-mana. Ini karena Bali macet dimana-mana, orang mau ke Ubud dari Denpasar sekitar 2,5 jam. Makanya mereka mencari daerah seperti Labuan Bajo, Lombok dicari dekat dari Bali. Data kami perhari sekitar 1.500 sampai 2.000 wisman ke Lombok dari Bali. Itu kan bahwa kemacetan itu sangat mempengaruhi daripada lenght of stay,” jelasnya ketika dikonfirmasi melalui telepon.
Maka dari itu ia mengatakan Bali butuh namanya pengambangan alternatif jalan dibeberapa ruas persimpangan.

Kalau tidak begitu maka wisman akan menghindari Bali karena macet.

“Mau bikin jalan layang orang ribut, maka tantangan Pak Gubernur kepada pelaku pariwisata, silakan kamu saja mengusulkan mau dibikin layang atau tidak. Kalau saya (Gubernur) memunculkan ini seolah-olah saya membawa investor dan dipolitisir. Jadi jangan pemerintah mengajukan itu. Kalau kita memikirkan underpass itu biayanya besar sekali dan kita enggak punya anggaran,” jelasnya.
Menurutnya, untuk menghadapi 10 ‘Bali’ baru dikatakannya pertama Bali harus punya infrastruktur baru, selain itu Bali harus memiliki daerah tujuan wisata baru yang akan merangsang wisman untuk datang ke Bali.

Adapun terkait dengan wisman yang datang ke Bali dikatakannya sudah memenuhi target dari 4,4 juta wisman, dimana sudah mencapai 4,9 juta jiwa.

Menurutnya, daerah tujuan yang paling banyak dikunjungi yakni masih daerah pantai seperti Kuta, Pantai Pandawa, Nusa Dua, Tanah Lot.

Selain itu daerah Ubud, Ulun Danu juga menjadi daerah tujuan wisatawan.
Disinggung mengenai target wisman 2017, ia mengarakan masih akan mengkaji dengan Universitas Udayana.

“Cuma secara kasar kalau target nasional 15 juta wisman, kementerian Pariwisata memasang kita (Bali) 5,5 juta wisman. Nanti kita akan kaji dengan Unud target ini, tetapi kalau kita perhitungkan dengan penerimaan tahun 2016 hampir 5 juta wisman, tahun ini (2017) sekitar 5 juta lebih bisa 5,2 wisman. Tetapi itu belum angka resmi, saya masih gojlok, entar kalau gak tercapai saya kena damprat nanti,” jelasnya.

Wisatawan yang banyak berkunjung ke Bali yakni Australia, Tiongkok, Inggris, India, Prancis, dan Jerman. (*)

Sumber: http://bali.tribunnews.com/2017/01/16/fenomena-bule-di-bali-kini-banyak-yang-datang-hanya-untuk-transit-lalu-menuju-ke-lokasi-ini?page=2