Kisah Kakek 80 Tahun yang Penuh Kasih Sayang dan Ikhlas Merawat Cucunya yang Menderita Penyakit Langka Sejak Lahir Sampai Meninggal

Kakek yang malang ini harus merawat cucunya selama 17 tahun, sendirian, karena ibu anak tersebut telah meninggalkan mereka setelah kematian suaminya.
Toton, seorang kakek berusia 80-an yang tinggal di Pangandaran, Jawa Barat, harus merawat cucu laki-lakinya yang berusia 17 tahun sejak lahir, seperti yang dilansir berbagai media.
Alamat lengkapnya berlokasi di Dusun Karang Petir RT/RW 01/02 Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Kisah Kakek 80 Tahun yang Penuh Kasih Sayang Rela Merawat Cucunya yang Menderita Penyakit Langka Sejak Lahir Sampai Meninggal dunia.
Kakek yang malang ini harus merawat cucunya selama 17 tahun, sendirian, karena ibu anak tersebut telah meninggalkan mereka setelah kematian suaminya.
Toton, seorang kakek berusia 80-an yang tinggal di Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia, harus merawat cucu laki-lakinya yang berusia 17 tahun sejak lahir, seperti yang dilansir Beritagar Indonesia .
Cucu Toton, Syifa, menderita kondisi langka yang menyebabkan tubuhnya menjadi sangat kurus, sampai-sampai hanya menyisakan kulit dan tulang belulang.
Dia tidak bisa berjalan maupun berbicara, dan hanya bisa berbaring di tempat tidur sepanjang hidupnya.
Ayah Syifa meninggal dunia saat usianya lima bulan, sementara ibunya meninggalkannya dengan Toton dan istrinya karena ibunya memutuskan untuk menikah lagi dan tidak mau merawat anak laki-lakinya itu.
Sejak itu, Toton dan istrinya telah merawat cucu mereka bersama-sama, sampai istrinya meninggal dunia.


Toton mengatakan bahwa selama dia masih hidup, dia akan berada di dekat Syifa.
Meskipun ia seorang dulunya seorang tentara, Toton tidak pernah menerima uang pensiun.
Toton harus bekerja keras di peternakan untuk menghidupi dirinya dan cucu laki-lakinya.
Meski mengalami kesulitan, Toton tidak pernah mengeluh dan tidak menyerah pada Syifa.
Setelah kondisi keluarga itu menyebar melalui media sosial, pemerintah Indonesia memberi bantuan, dan Syifa diberi rawat inap, menurut laporan Swara Pangandaran .
Namun, dia meninggal dunia di rumah sakit sekitar pukul 06.00 WIB, Selasa (5/4/2016).
Ketika Syifa hendak dimakamkan, banyak pejabat datang untuk memberikan penghormatan terakhir dan menyampaikan belasungkawa mereka.
Syifa dimakamkan di sebuah pemakaman umum di desanya, dan banyak pejabat menemaninya hingga perjalanan terakhir.
Ada beberapa orang di dunia yang telah mengumpulkan kekayaan luar biasa, sementara banyak lainnya masih berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Sayangnya, kakek dan cucu laki-lakinya itu berjuang sepanjang hidup mereka, dan saat pertolongan itu datang terlambat, semuanya segera berakhir.
Ketika kejadian tragis seperti itu terjadi, membuat kita bertanya-tanya tentang misteri kehidupan ini. (intan/asr)
Sumber : Berbagaisumber