"Tamu itu Bernama Ibu," Renungan Tentang Ibu yang akan Membuat Mata Anda Berkaca-kaca Bahkan Menangis karenanya



Oleh: Thang Xiao-xiao

Saat sedang kerja,  tiba-tiba mendapat telepon dari mertua.
Dia berkata bahwa ada tamu di rumah. Lalu menanyakan padaku apa bisa makan siang bersama di rumah.
Saat itu lagi sibuk-sibuknya, benar-benar tidak sempat, tapi kalau tidak temani tamu makan siang juga rasanya kurang etis.
Kemudian aku bilang pada mertuaku untuk membeli beberapa macamn sayur di restoran, nanti aku langsung pulang seusai jam kantor.
Namun, telepon baru saja ditutup, mertua kembali menelepon.
Tamunya bilang pada mertuaku bahwa dia cukup makan seadanya saja di rumah, kalau memang aku tidak sempat, ya tidak apa-apa, jangan dipaksakan, jangan dipaksakan.
Mana boleh begitu? Ini keterlaluan namanya!
Namun, aku menjadi lega ketika mertuaku bilang tamu itu adalah ibuku.
Kalau ibu ya tidak perlu terlalu formal dan tata krama juga tidak masalah, seadanya sajalah.
Jadi, saat itu mertua dan ibuku makan siang bersama, dua macam sayur satu dan sup, sangat sederhana, sementara aku, makan siang bersama dengan rekan-rekan kantor.
Malamnya, saat pulang seusai kerja, ibu sudah pergi.
Sementara di ruang tamu, aku melihat setumpukan hanya barang-barang bawaan ibu. Macam-macam barang yang dibawanya, apa pun ada, lengkap.
Aku melihat tumpukan barang-barang itu, sambil membayangkan lauk pauk sederhana yang dinikmati ibu saat makan di rumah tadi, tiba-tiba hatiku merasa sedih.
Dan tak disangka saat menyinggung masalah itu dengan teman, seketika mengingatkanku tentang ibu.
Temanku cerita kalau ia orang yang tidak suka  melakukan pekerjaan rumah tangga.
Biasanya di rumah, bahkan  untuk sekadar menuang teh saja malas,  tapi begitu ada tamu, sikapnya pun berubah seperti orang baru,  menjadi sosok orang lain.
Dia akan  menyeduh  teh untuk tamu,  meski  tamu itu  bilang tidak minum teh, tapi tetap saja ia tuang untuknya.
Dia juga menawari tamunya tidak usah sungkan, makan saja apa yang disukai, ada buah-buahan atau  camilan yang disediakan di atas meja.
Dia merasa, orang yang berkunjung ke rumah sebagai tamu itu harus membuat tamu itu merasa nyaman, jika tidak, siapa yang mau datang bertamu lagi.
Lalu, saat tamu pergi, dia pun menjadi sibuk, menyapu, ngepel, cuci gelas dan sebagainya.
Meskipun dia tidak suka melakukan hal-hal ini, tapi demi menyenangkan tamu, dia pun berusaha bersabar.
Hari itu, ibunya datang menjenguknya, begitu masuk ke rumah, ia langsung menyuruh ibunya melepas  sandal/sepatu.
Saat memberikan buah-buahan untuk ibunya,  ia pun ngedumel takut ibunya membuat kotor ruang tamu.
“Hati-hati bu, jangan bikin kotor lantai.”
Begitu juga pada saat makan, ia juga terus menggerutu, jangan sampai butiran nasi jatuh ke lantailah, jangan membuat kotor meja makan dengan supnyalah dan sebagainya.
Singkatnya, ada-ada saja tuntutannya, sehingga membuat ibunya canggung dan serba salah.
Demi agar lantai tetap terjaga bersih, dan tidak merepotkan putrinya menyapu atau mengepel lagi, sang ibu pun pulang lebih awal.
Setelah ibunya pergi, tiba-tiba ia menyalahkan dirinya begitu melihat rumah yang bersih tanpa kotoran.
Ada lagi seorang teman, sosoknya hangat, selama  ada tamu, bahkan meski hanya kenalan biasa, tapi dia akan kesampingkan dulu pekerjaannya.
Lalu melayaninya dengan sepenuh hati. Mengajaknya menikmati makanan setempat, jalan-jalan  ke tempat-tempat menarik, karena takut tamunya tidak bisa bersenang-senang dengan mengesankan.
Layanan yang hangat dan tulus seperti ini, tentu saja dengan sendirinya membuat hubungan personalnya sangat  mengesankan di mata orang-orang.
Dan semakin banyak orang  yang mencarinya  sebagai pemandu wisata. Dia tidak pernah menolak.
“Jauh-jauh mereka datang ke sini, masa sih kita harus membuatnya kecewa dan pulang lagi dengan kesan yang mengecewakan?”
Ketika itu, ibunya datang dari kampung menjenguknya. Sayangnya, beberapa hari itu ia pusing dengan pekerjaannya.
Lalu ibunya terus berkata, “Jangan ajukan cuti, pekerjaan lebih penting, lagipula ibu sudah tua, tidak ingin jalan-jalan, yang penting kamu temani ibu ngobrol setiap malam setelah pulang ke rumah, itu juga sudah lebih dari cukup buat ibu.”
Selama seminggu itu, dia tidak pernah sekalipun menemani ibunya  jalan-jalan, tidak membawa ibunya jalan-jalan melihat panorama kota yang indah.
Dia mengira  ibunya tidak perlu  hal-hal seperti itu. Sampai setelah ibunya pulang, ia telepon ke rumah, kemudian ditanya oleh adiknya.
“Kak, ibu dibawa jalan-jalan gak, ibu bilang kali ini ia ingin jalan-jalan sambil melihat pemandangan,” tanyanya.
Mendengar kata-kata adiknya, tiba-tiba ia merasa sedih, dan tanpa terasa air matanya pun menetes membasahi kabel telepon yang dipegangnya.
Tempat yang paling suka dikunjungi  setiap ibu barangkali adalah  rumah anak-anaknya, karena disana  ada orang yang dirindukannya.
Sebagai anak-anak yang telah berkeluarga, selalu berusaha semaksimal mungkin membuat tamunya gembira, nyaman dan merasa dihargai.
Namun, ketika ibu kandung sendiri bertamu, tidak pernah terlintas dalam benak kita bagaimana membuat ibu agar lebih bahagia, lebih  nyaman dan merasa dihargai.
Sebaliknya ibu, ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai tamu. Lebih baik dia  menyiksa batinnya sendiri juga tidak akan merepotkan tuan rumah, sekali pun itu adalah anaknya kandungnya sendiri.
Di rumah putrinya sendiri, ibu jauh lebih tulus ikhlas daripada tamu apa pun, tapi ia tidak pernah menikmati kesan sebagai tamu yang dihargai.
Sampai di sini, mataku berkaca-kaca dan air mata pun berlinang membasahi wajahku. (jhony/rp)
Sumber: coco01.net